Minggu, 22 Mei 2011

HUTAN SEBAGAI SUMBER TUMBUHAN OBAT

HUTAN SEBAGAI SUMBER TUMBUHAN OBAT

Sebagai Bangsa Indonesia, kita mestinya bersyukur karena dikaruniai ribuan pulau dan laut yang luas tempat hidup dan berkembangnya beranekaragam jenis flora dan fauna yang menjadi penyedia berbagai bahan pangan dan kebutuhan dasar manusia. Meskipun hanya menempati 1,3% daratan dunia namun di dalamnya terdapat sekitar 17% spesies yang ada di bumi. Hutan Indonesia ditumbuhi 11% spesies tanaman, dihuni 12% mamalia, 15% reptil dan amfibi dan 17% burung. Hutan-hutan tersebut juga memberikan banyak macam produk seperti kayu, buah, sayuran, kacang-kacangan, rempah-rempah, obat-obatan, parfum, minyak, biji-bijian, makanan ternak, serat, bahan pewarna, bahan pengawet dan pestisida. Lebih dari 6.000 spesies tanaman dan hewan digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Indonesia merupakan salah satu di antara tiga negara mega-biodiversity di dunia yang memiliki berbagi spesies tanaman pangan dan obat tradisional. Ada lebih 100 spesies tanaman biji-bijian, sagu dan umbi-umbian penghasil tepung dan gula. Juga lebih dari 100 spesies tanaman kacang-kacangan sebagai sumber protein dan lemak. 450 spesies tanaman buah-buahan sumber vitamin dan mineral. Tersedia lebih dari 250 spesies tanaman sayur-sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral. 70 spesies tanaman bumbu dan rempah-rempah. Juga 40 spesies tanaman bahan minuman dan 940 spesies tanaman bahan obat tradisional.
Hutan tropis yang sangat luas beserta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya merupakan sumber daya alam yang tak ternilai harganya. Indonesia juga dikenal sebagai gudangnya tumbuhan obat (herbal) sehingga mendapat julukan live laboratory.
Kita boleh berbangga dengan kekayaan herbal yang tidak dimiliki oleh negara lain. Sekitar 30.000 jenis tumbuhan obat dimiliki Indonesia. Dengan kekayaan flora tersebut, tentu Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan produk herbal yang kualitasnya setara dengan obat modern. Akan tetapi, sumber daya alam tersebut belum dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan masyarakat. Baru sekitar 1200 species tumbuhan obat yang dimanfaatkan dan diteliti sebagai obat tradisional. Beberapa spesies tumbuhan obat yang berasal dari hutan tropis Indonesia justru digunakan oleh negara lain. Sebagai contoh adalah para peneliti Jepang yang telah mematenkan sekitar 40 senyawa aktif dari tanaman yang berasal dari Indonesia (Suara Pembaruan, 26 Maret 2005). Bahkan beberapa obat-obatan yang bahan bakunya dapat ditemukan di Indonesia telah dipatenkan dan diproduksi secara besar-besaran di negara lain sehingga memberi keuntungan yang besar bagi negara tersebut.
Sebuah survei terhadap 150 jenis obat beresep yang umum digunakan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 57 persen mengandung sedikitnya satu senyawa aktif yang didapat dari alam. Sebagian besar di antaranya didapat dari hutan tropis, antara lain adalah senyawa kontrasepsi, pengendur otot, senyawa anti bakteri, aprodisiak, dan obat-obatan yang digunakan untuk mengobati gagal jantung, malaria, kanker, dan penyakit lainnya.

Penduduk asli di hutan tropis memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang tumbuhan obat-obatan, dan di sejumlah besar wilayah penyembuhan tradisional merupakan penyedia jasa pelayanan kesehatan yang utama. Bukti kemampuan pengobatan tradisional makin berkembang, dan tumbuhan obat-obatan dari wilayah tropis kini digunakan di seluruh dunia.
Tabel Tanaman obat yang berpotensi untuk sumber bahan obat modern di Indonesia
No Species tanaman Bagian yang digunakan Indikasi khasiat
1 Benalu teh (Loranthus spp) Tangkai daun Anti kanker
2 Brotowali (Tinospora crispa L.) Tangkai daun Anti malaria, kencing manis
3 Bawang putih (Allium sativum L.) Umbi Anti jamur, penurun lemak darah
4 Ceguk/wudani (Quisqualis indica L.) Biji Obat cacing
5 Delima putih (Punica granatum L.) Kulit buah Anti kuman
6 Dringo (Acorus calamus L.) Umbi Obat penenag
7 Handeuleum/daun wungu (Grapthophyllum pictum Griff.) Daun Wasir atau ambeien
8 Ingu (Ruta graveolens L.) Daun Anti kuman, penurun panas
9 Jahe (Zingiber officinale Rosc.) Rimpang Penghilang nyeri, anti piretik, anti radang
10 Jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingk.) Buah Obat batuk
11 Jati belanda (Guazoma ulmifolia Lamk.) Daun Penurun kadar lemak darah
12 Jambu biji/klutuk (Psidium guajava L.) Daun Anti diare
13 Jambu mente (Anacardium occidentale L.) Daun Penghilang nyeri
14 Kunyit (Curcuma domestica Val.) Rimpang Radang hati, radang sendi, anti septik
15 Kejibeling (Strobilanthes crispus Bl.) Daun Obat batu ginjal, pelancar air seni
16 Katuk (Sauropus androgynus Merr.) Daun Pemacu produksi air susu ibu
17 Kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth.) Daun Pelancar air seni
18 Legundi (Vitex trifolia L.) Daun Anti kuman
19 Labu merah (Curcubita moschata Duch) Biji Obat cacing pita
20 Pepaya (Carica papaya L.) Getah, daun, biji Sumber enzim papain, anti malaria, kontrasepsi pria
21 Pegagan/kaki kuda (Centella asiatica Urban) Daun Pelancar air seni, anti kuman, anti tekanan darah tinggi
22 Pala (Myristica fragrans Houff.) Buah Penenang
23 Pare (Momordica charantia L.) Buah, biji Kencing manis, kontrasepsi pria
24 Saga telik (Abrus precatorius L.) Daun Sariawan usus
25 Sembung (Blumea balsamifera D.C.) Daun Penghilang nyeri, penurun panas
26 Sidowayah (Woodfordia floribunda Salisb.) Daun Anti kuman, pelancar air seni
27 Sambiloto (Andrographis paniculata Ness.) Seluruh bagian Anti kuman, obat kencing manis
28 Seledri (Alpium graveolens L.) Seluruh bagian Anti tekanan darah tinggi
29 Sirih (Piper betle L.) Daun Anti kuman
30 Temu lawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.) Rimpang Obat radang hati kronis
31 Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Daun Pelancar air seni, obat penghancur batu ginjal

Tabel Contoh tipe ekosistem hutan dataran rendah dan jenis tanaman obat
Tipe ekosistem hutan Jenis tanaman obat Keterangan
1. Hutan hujan dataran rendah Pasak bumi (Eurycoma longifolia), Akar kuning (Arcangelisia flava), Kamfer (Dryobalanops aromatica), Kepayang (Scaphium macropodum), Tabat barito (Ficus delteidea), Kemiri (Aleurites moluccana) Kedawung (Parkia roxburghii) dan Gaharu (Aqularia malaccensis) < 1000 m dpl; keanekaragaman paling tinggi; beriklim basah; terutama di Sumatera, Kalimantan, Irian Jaya
2. Hutan pantai Bintangur (Calophyllum inophylum), Keben (Barringtonia asiatica), Waru (Hibiscus tilliaceus) dan Ketapang (Terminalia catappa) Di pantai, tanah kering berbatu dan regosol; di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi
3. Hutan payau (mangrove) Api-api (Avicennia marina), Bogem (Sonneratia ovata) Nyirih agung (Xylocarpus granatum), Bako rayap (Rhizophora apiculata) dan Tumus (Bruguiera conjugata) Di pantai dan tepian sungai; dipengaruhi pasang surut air laut; terutama di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, Jawa


Permasalahan pelestarian Tumbuhan Obat Indonesia menurut Zuhud et al. (2001) disebabkan karena:
a) Kerusakan habitat,
b) Punahnya budaya dan pengetahuan tradisional penduduk asli/lokal di dalam atau sekitar hutan,
c) Pemanenan tumbuhan obat yang berlebihan. Adanya eksploitasi terhadap kayu yang sekaligus pohon tersebut yang juga merupakan spesies tumbuhan obat juga merupakan ancaman terhadap kelestarian tumbuhan obatnya. Sebagian besar areal konsesi hutan yang sudah diusahakan saat ini terdapat di tipe hutan hujan dataran rendah dimana 44% spesies tumbuhan obat penyebarannya terdapat di formasi hutan ini dan di areal hutan konversi (areal hutan yang bisa dirubah menjadi areal non-hutan seperti untuk perluasan lahan pertanian/ perkebunan, areal transmigrasi dan areal industri dll). Ancaman kelestarian plasma nutfah tumbuhan obat hutan tropika saat ini menurut Zuhud et al. (2001) sangat serius karena formasi hutan tropika dataran rendah selama 2 dekade belakangan ini mengalami kerusakan yang sangat parah, akibat eksploitasi kayu, perambahan hutan, kebakaran hutan, konversi hutan, perladangan berpindah dan lain-lain,
d) Ketidak seimbangan penawaran dan permintaan tumbuhan obat,
e) Lambatnya pengembangan budidaya tumbuhan obat Indonesia,
f) Rendahnya harga tumbuhan obat,
g) Kurangnya kebijakan dan peraturan perundangan pelestarian,
h) Kelembagaan pelestarian tumbuhan obat.
Namun, ironisnya Hutan yang merupakan sumber kehidupan tersebut sedang terancam punah dan terancam hal-hal yang merusak kelestariannya seperti penebangan hutan, pembukaan lahan untuk pertanian dan perkebunan, perburuan hewan langka serta pencemaran lingkungan. Selain itu juga dampak buruk dari rusaknya kelestarian hutan lambat laun akan mengenai hidup manusia, seperti terganggunya kehidupan sosial, kebudayaan dan perekonomian masyarakat.
Hal ini memerlukan kepedulian semua pihak untuk menyelamatkan Sumber Daya Hutan yang saat ini menghadapi ancaman deforestasi dan degradasi. Bukti-bukti telah banyak disampaikan dan fakta pun telah banyak dikemukakan akan manfaat hutan dari segi ketersediaan tumbuhan obat yang banyak diperlukan dan dimanfaatkan bagi manusia. Akankah kita biarkan sumber daya alam kita yang notabene sangat banyak memberikan kontribusi bagi perikehidupan kita hancur luluh lantak tanpa ada keinginan untuk mempertahankannya? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing!!!

BEBERAPA TUMBUHAN OBAT DAN KHASIATNYA:


1. Pulai (Alstonia scholaris (L.) R.Br.)

Kegunaan:
Daun tumbuhan digunakan untuk pengobatan gangguan pencernaan, seperti: perut kembung, mules, diare, disentri, obat cacing, batuk, malaria, diabetes, tekanan darah tinggi, radang ginjal, untuk perempuan dalam masa nifas dan obat wazir.
Kulitnya yang berasa pahit digunakan pula sebagai tonikum dan meningkatkan nafsu makan, sedangkan getahnya digunakan untuk pengobatan penyakit kulit, borok, koreng dan bisul.




2. Meniran (Phyllanthus niruri L.)

Tumbuhan dari famili euphorbiaceae ini, air rebusannya diminum untuk melancarkan buang air kecil atau diuretik, untuk mengobat penyakit ginjal, seperti radang ginjal, infeksi dan batu di saluran kencing, melancarkan air seni dan menyembuhkan radang hati atau hepatitis, sakit kuning dan penyakit kelamin seperti kencing nanah.

Tumbuhan ini juga digunakan untuk pengobatan berbagai jenis penyakit lainnya, seperti: kencing manis, batuk pada anak-anak, emenagog atau peluruh haid, malaria, diare dan radang usus, obat penyakit kulit seperti: eksim, panu, cacar dan herpes.



3. Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth.)
Kegunaan:
Di Indonesia, daun kumis kucing digunakan sebagai diuretik atau peluruh kencing, dan juga untuk pengobatan kencing manis, tekanan darah tinggi, aterosklerosis, radang ginjal, rematik, tonsilitis, epilepsi atau ayan, gangguan menstruasi, gonorea, sipilis, dan sebagainya.




4. Jambu biji (Psidium guajava L.)

Kegunaan:
Daun atau akar umumnya digunakan untuk pengobatan diare atau mencret, murus dan radang selaput lendir lambung dan usus. Buahnya digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol yang tinggi dalam darah atau hiperkolesterolemia, dan kencing manis, sedangkan daunnya selain menurunkan kadar kolesterol dalam darah, juga digunakan untuk pengobatan keputihan.


5. Jahe (Zingiber officinale (Wild.) Rosc.)

Kegunaan:
Sejak dulu telah digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional atau bumbu makanan. Rimpangnya yang berasa pedas, hangat dan diaforetik atau mengeluarkan keringat, umumnya digunakan untuk meningkatkan nafsu makan, pengobatan influensa, gangguan saluran pernafasan, batuk, masuk angin, gangguan pencernaan atau mulas, diare, muntah-muntah, obat gosok penyakit encok, terkilir, bengkak, gatal-gatal, digigit ular, kolera dan difteri. Di samping itu juga digunakan sebagai bahan ramuan obat batuk dan luka.


6. Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f) Wallich ex Nees)

Di Indonesia dikenal sebagai bahan obat tradisional yang mempunyai sifat hepatoprotektif, antiinflamasi, antipiretik atau meredakan demam dan untuk penawar racun atau detoksikasi. Seluruh bagian tumbuhan sambiloto atau bersama-sama dengan kumis kucing digunakan pula untuk menyembuhkan sakit gula atau kencing manis.
Daun sambiloto yang rasanya pahit digunakan sebagai tonikum, menumbuhkan nafsu makan, untuk pengobatan radang tenggorokan, demam, malaria, tifus, sakit perut, disentri, difteri, gatal-gatal, eksema, radang usus buntu, gonorea atau kencing nanah, sifilis dan epilepsi atau ayan. Di samping itu daun sambiloto juga digunakan untuk menyembuhkan luka karena gigitan ular berbisa atau racun binatang lainnya.


Daftar Pustaka
1. Achmad, AS, dkk, Tumbuh-tumbuhan Obat Indonesia, Jilid I, 2007, Penerbit ITB.
2. Hasanah. M, 2004, Penelaahan terhadap plasma nutfah khusus: tanaman obat, diakses dari http://indoplasma.com/artikel
3. Zuhud, E. A.M, Azis, S., M. Ghulamahdi, N. Andarwulan, L.K. Darusman. 2001. Dukungan teknologi pengembangan obat asli Indonesia dari segi budidaya, pelestarian dan pasca panen. Lokakarya Pengembangan Agribisnis berbasis Biofarmaka. Pemanfaatan dan Pelestarian Sumber Hayati mendukung Agribisnis Tanaman Obat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar